Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 11 Maret 2012

Film Badai di Ujung Negeri | Free Download Badai di Ujung Negeri


Film badai di ujung negeri merupakan film terbaru yang diproduksi oleh industri perfilman indonesia. Banyak sekali ditahun ini film-film terbaruyang dirilis guna memberi tontonan bagi masyarakat Indonesia. Tapi film Indonesia sekarang ini cenderung mengangkat tentang film horor yang berbau seks. Tapi untuk film badai di ujung negeri ini lain ceritanya.
Film yang disutradarai oleh Agung Santausa ini mendapat nilai positif bagi para penontonnya. Para pemainnya pun sudah tidak asing lagi dimata masyarakat kita. BINTANG FILM: Arifin Putra (Badai), Yama Carlos (Joko), Astrid Tiar (Anissa), Nugi (Kukuh Adirizky), Piter (Jojon), Ida Leman. Mereka merupakan sebagian besar pemain yang ikut membintangi film ini.
Disaat bioskop meluncurkan film terbaru mereka, para pecinta film langsung berbondong-bondong untuk menontonnya. Ada juga yang mencari di internet. dengan download film badai di ujung negeri. Tapi tidak sedikit web yang menyediakan tempat download secara gratis. Sekarang susah mencari Free download film terbaru Indonesia.
berikut sepintas cerita (sinopsis) film badai di ujung negeri :
Sebuah kisah dari ujung negeri. Mengangkat persoalan yang kadang dilupakan banyak orang. Konflik batin dari seorang serdadu yang ditugaskan di pulau terluar di negeri ini. Sutradara Agung Sentausa menyuguhkan kisahnya dalam drama yang berwarna. Ada romantisme, ada pula laganya.
Tak mudah menjadi tentara. Setidaknya butuh komitmen dan pengabdian. Salah satunya ketika mereka bertugas di titik-titik terluar negeri ini. “Kata emakku, tentara hanya menambah beban di sini saja,” kata Anissa, seorang perempuan keturunan yang menjadi warga dari salah satu titik terluar di Provinsi Kepulauan Riau.
Anissa (Diperankan Astrid Tiar) merupakan salah satu tokoh fiktif dalam film berjudul Badai di Ujung Negeri. Saat mengucapkan kalimatnya, Anissa sedang berbincang dengan seorang anggota TNI AL bernama Badai (Arifin Putra) yang baru saja ditempatkan di pos terluar di lokasi tersebut.
beradaptasi dengan masyarakat sekitar, Badai dan masyarakat sudah dikejutkan dengan penemuan sesosok perempuan pribumi yang ditemukan tewas mengapung di tepi dermaga. Kondisi mayat masih segar bugar dengan prediksi waktu kematian belum sampai sehari. Badai menjadi sosok yang dicurigai sejumlah masyarakat. Kecurgiaan makin bertambah manakala sesosok bocah bernama Dika menjadi korban pada keesokan harinya.
Kondisi yang makin tak berpihak kepada Badai. Pergolakan batin semakin mencuat di dalam diri Badai lantaran dirinya tak hanya harus berkonflik dengan Anissa yang dicintainya, tetapi juga masa lalunya, dan pertemanannya dengan ayah Dika. Masa lalu terngiang kembali ketika dirinya kembali bertemu dengan sosok Joko–kawan lamanya, sama-sama TNI AL, datang bersama-sama kedatangan KRI.
Badai dan Joko selalu bersalahpaham bahwa kematian Nugie, adik Joko, beberapa tahun lalu adalah akibat kesalahannya. Di lain sisi, Badai harus menghadapi tekanan menjaga proses penyelidikan dari masyarakat, sementara ayah Dika penasaran dengan alasan kematian anaknya. Badai bertekat, tidak ada kematian misterius berikutnya.
Konflik demi konflik terus bermunculan, sampai kemudian seorang perompak bekewarganegaraan Indonesia bernama Piter menyandera sebuah kapal tanker berbendera asing. Piter meminta tebusan Rp 5 miliar kepada Pemerintah Indonesia, agar kapal tanker tersebut beserta sandera bisa dilepaskan.
Tak mudah bagi Badai untuk menjadi seorang nasionalis sejati, mengungkap kasus dan mengembalikan kepercayaan masyarakat. “Film ini menceritakan kehidupan di perbatasan dari kacamata tentara. Negatif dan skeptis awalnya, tapi bisa terbangun juga pada akhirnya,” jelas Arifin Putra, pemeran sosok Badai dalam film tersebut.
Lewat film besutan Agung Sentausa ini, penonton akan diajak mendalami seluk-beluk kehidupan seorang tentara dengan segala sisi kemanusiaannya. Film produksi Quanta Pictures tersebut selain mendramatisir kisah, juga menampilkan beragam polah aksi maskulin tentara seperti adegan tembak-tembakan sampai tarung yang digarap dengan apik. Menariknya, film berdurasi sekitar 100 menit dengan masa garapan total hampir lima bulan ini didukung sepenuhnya oleh TNI AL, dari mulai menghadirkn aksi tempur Pasukan Khusus Katak, aksi penerjunan perahu dari pesawat itu. “Adegan ini sudah tujuh tahun nggak dilakukan, jadi butuh empat hari untuk persiapannya,” kata Agung.
Demi menghadirkan suasana batin para tokohnya dengan dunia kemiliteran, seluruh pemain mendapat pelatihan dari kamp pelatihan khusus selama delapan hari. Lantas, bagaimana kelanjutan kisah Badai dengan segala kemanusiaan, rasa nasionalisnya, menyelesaikan konflik yang hadir?
Saksikan film yang juga memamerkan segala potensi kekayaan laut Indonesia di bioskop kesayangan mulai Kamis, 29 September mendatang.

0 komentar:

Poskan Komentar